Ganjar Pranowo “Di-No One is Bigger Than The Club-kan”, Apa Maksud Megawati?

Dengan mengucilkan Ganjar Pranowo, Megawati mengirim sinyal agar tidak ada lagi Jokowi di tubuh PDIP

“No one individual is bigger than this club. There never has and never will be,” ujar striker Liverpool, Kenny Dalglish pada suatu ketika.

Dalam jagad sepak bola, kedatangan pemain bintang tidak serta merta membuat klub menjadi lebih kuat. Tak jarang kehadiran pemain bintang justru merontokkan prestasi klub. Hal ini tak lepas dari ego sang bintang yang membuat kacau kerja sama antar pemain. 

Ego pemain bintang inilah yang tak jarang merepotkan para pelatih. Tak heran ketika Real Madrid yang berjuluk Los Galacticos itu bertaburan bintang, justru membuat pelatihnya pusing tujuh keliling

.

Ganjar Pranowo
Ganjar Pranowo dikerumuni ratusan kader saat menuju lokasi acara di Kompleks JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (10/1/2023) (Sumber: Kompas.com)

PDIP pun demikian. Popularitas Ganjar Pranowo yang terus melejit belakangan ini bisa bagaikan pisau bermata dua bagi partai besutan Megawati ini. Coattail effect popularitas Ganjar bisa berdampak positif bagi PDIP, tetapi bisa juga sebaliknya.

Seperti coattail effect Jokowi dalam Pemilu 2014 dan 2019 yang mampu mengerek perolehan suara bagi PDIP, begitu juga dengan Ganjar. Popularitas Ganjar bisa mengangkat suara PDIP dalam Pemilu Legislatif 2024, setidaknya mempertahankannya di seputaran 19 persen suara.

Tetapi, misalnya saja, jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) balik kanan dan menuruskan pengusutan korupsi e-KTP yang menyebut-nyebut nama Ganjar, nasib PDIP pun bisa mirip Partai Demokrat pada Pileg 2014. Seperti suara Demokrat yang anjlok gegara terseret-seret tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh ketua umumnya, Anas Urbaningrum, PDIP pun demikian.

Memposisikan Ganjar Pranowo bagaikan satu-satunya bintang di partai pun bisa berdampak buruk pada etos kerja kader. Kader bisa menjadi sangat tergantung pada satu figur Ganjar. Akibatnya kader menjadi malas bekerja.

Selain itu, Megawati pastinya tak ingin ada dua matahari di tubuh partai yang dipimpinnya. Megawati masih ingin dirinya atau keluarganya yang menjadi satu-satunya matahari di partai bersimbolkan banteng bermoncong putih itu.

Megawati juga pastinya tidak mau jika konstitusi partainya dicabik-cabik dengan mengatasnamakan popularitas dan elektabilitas hasil survei.

Dua matahari dalam satu partai sejak moncernya nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pada 2013 sudah cukup bagi Megawati untuk menimba pengalaman.

Di sisi lain, Megawati pun pastinya tak mungkin memandang sebelah mata kebintangan Ganjar Pranowo beserta coattail effect-nya. Tak mungkin Megawati lari dari kenyataan bahwa elektabilitas Ganjar lebih tinggi dari kader-kader PDIP lainnya, termasuk Puan Maharani putrinya sendiri.