Fakta Ganjar Pranowo Bukanlah Capres Kuat Seperti Rilis Survei

Adanya kejanggalan pada hasil survei Charta Politika tersebut mengisyaratkan ada sesuatu pada tingginya tingkat elektabilitas Ganjar.

Padahal, Ganjar maju sebagai calon gubernur petahana yang pastinya memiliki lebih banyak aset dan akses ketimbang rivalnya.

Bukan hanya itu, Ganjar pun diusung oleh PDIP, Golkar, PPP, Demokrat, dan Nasdem yang total menduduki 58 dari 100 kursi di DPRD Jawa Tengah. Ditambah lagi dengan bergabungnya Perindo dan PSI.

Dan, lebih dari itu, Ganjar juga bertarung di provinsi yang dipimpinnya sendiri dan juga daerah yang disebut-sebut sebagai kandang banteng, kandang Ganjar sendiri.

Hasil Pilgub Jateng 2018 tersebut adalah fakta yang membuktikan bila Ganjar bukanlah capres kuat seperti dalam rilis-rilis survei.

Timbul satu pertanyaan besar, kenapa suara yang berhasil diraih Ganjar jauh lebih kecil dibanding hasil survei. Padahal survei tersebut dirilis hanya 20 hari jelang hari pencoblosan? 

Apakah hasil survei yang mengunggulkan Ganjar dengan tingkat elektabilitas di atas 70,5 persen tidak valid?

Lantas, bagaimana dengan survei yang menempatkan Ganjar sebagai capres kuat dalam Pilpres 2024?

Mencoloknya kejanggalan pada Hasil Survei yang Unggulkan Ganjar

Pada 15 Mei 2023, Charta Politika memaparkan hasil surveinya. Menurut hasil survei yang diunggah ke situs Chartapolitika.com, Ganjar Pranowo menjadi capres terkuat dengan elektabilitas mencapai 38,2 persen. Di bawahnya, bertengger Prabowo Subianto dengan elektabilitas 31,1 persen disusul Anies Baswedan dengan elektabilitas 23,6 persen.????

Tapi, ada satu data yang sangat menarik. Oleh Charta Politika disebutkan masih ada 7,1 persen responden yang belum menjawab atau tidak tahu.

TT atau tidak tahu. Responden yang menjawab “tidak tahu” biasanya karena belum menentukan pilihan. Responden-responden ini disebut juga undecided voter. Dan, TJ untuk responden yang tidak mau menjawab. Responden ini biasanya kelompok golongan putih.

Makin mendekati hari pencoblosan, angka TT/TJ akan mengecil karena kelompok undecided voter sudah banyak yang menentukan pilihannya.

Angka TT/TJ yang hanya 7,1 persen ini sangat janggal mengingat menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU) angka golput selalu mencapai dua digit. Golput pada Pilpres 2004 sebesar 23,30 persen. Pilpres 2009 tercatat 27,45 persen. Kemudian pada Pilpres 2014 sebesar 30,42 persen. Dan, pada Pilpres 2019 angka golput terdata sejumlah 18,02 persen.

Angka TT/TJ versi Charta Politika ini semakin janggal bila membandingkannya dengan hasil survei Tempo pada 1986 atau satu tahun jelang Pemilu 1987. Menurut survei tempo tersebut kaum muda yang tidak memilih saat disurvei sebesar 10,16 persen. Sementara, 26,48 persen responden lainnya menjawab “tidak tahu”.