Jokowi Sepakat Puan Jadi Cawapres Prabowo?

Didapuknya Puan menjadi cawapres bukan berarti peluang Prabowo untuk menjuarai Pilpres 2024 menipis. Sebaliknya, menggandeng Ganjar tidak serta merta membuat peluang Prabowo menjadi lebih besar. Sebab, gabungan dua calon yang memiliki tingkat elektabilitas tinggi belum tentu mampu meraih suara terbanyak. 

Artinya, menduetkan Ganjar dengan Prabowo bukan berarti dapat memenangkan Pilpres 2024.

Demikian juga jika menggunakan teori “Empat Poros”, yaitu pro-Jokowi, pro-Prabowo, anti-Jokowi, dan anti-Prabowo.

Secara garis besar, Prabowo mendapat dukungan dari poros pro-Prabowo dan pro-Jokowi. Anies didukung oleh anti-Jokowi. Dan,,Ganjar disokong oleh anti-Prabowo.

Bagi poros anti-Prabowo, penolakan terhadap Prabowo sudah harga mati, meskipun Ganjar cawapresnya. 

Dengan menggunakan teori ini, Ganjar atau Puan tak mengubah peta kekuatan elektoral Prabowo.

Tetapi, dengan menggaet Puan sebagai cawapres, Prabowo akan mendapat bonus dukungan penuh dari Megawati. Selain itu, majunya Puan juga akan membuat banteng-banteng PDIP lebih bersemangat lagi.

Bagaimana dengan Jokowi?

Bagi Jokowi, Ganjar atau Puan tak masalah. Terpenting skenario dua paslon yang diskenariokannya terrealisasi. Dengan begitu, Jokowi bisa lebih mudah mengontrol sekaligus memusatkan sumber dayanya, termasuk intelijen. Lebih dari itu, bergabungnya PDIP merupakan asuransi bagi Prabowo bila Golkar benar-benar hengkang.

Akan tetapi, bila Puan yang disodorkan, Jokowi dapat memanfaatkannya untuk memperbaiki hubungannya dengan Megawati.

Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, Jokowi pastinya lebih mendukung Puan sebagai cawapres untuk Prabowo ketimbang Ganjar.

Maka, tak ada salahnya bila PDIP segera bergegas menemui Prabowo dengan membawa proposal “Puan Cawapres”.